Scroll untuk baca artikel
SENI BUDAYA

Festival Kue Bulan di Palu: Wijaya Chandra Tekankan Makna Kebersamaan, Doa, dan Penguatan Budaya

3
×

Festival Kue Bulan di Palu: Wijaya Chandra Tekankan Makna Kebersamaan, Doa, dan Penguatan Budaya

Sebarkan artikel ini

PALU,CINDOnews– Festival Kue Bulan yang digelar di Millennium Water Park Palu, Sabtu 26/9/26, tidak sekadar menjadi perayaan tradisi masyarakat Tionghoa. Momentum tersebut juga dimaknai sebagai ruang mempererat kebersamaan, menjaga silaturahmi, sekaligus mengenang para korban bencana Palu 2018.

Hal itu disampaikan Wijaya Chandra (Ko Awi), Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) sekaligus Ketua Apindo Sulawesi Tengah, saat memberikan Sambutannya dalam rangkaian Festival Kue Bulan.

Ko Awi menjelaskan, Festival Kue Bulan atau Festival Pertengahan Musim Gugur memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Tionghoa, khususnya para petani.

Tradisi tersebut erat kaitannya dengan bulan purnama yang pada masa lalu memiliki peran penting bagi masyarakat ketika penerangan listrik belum tersedia.

Menurut Ko Awi, cahaya bulan purnama membantu para petani menyelesaikan aktivitas panen hingga malam hari menjelang memasuki musim dingin.

Karena itu, bulan purnama kemudian menjadi bagian dari ungkapan rasa syukur atas hasil panen dan kehidupan.

“Karena bulan saat itu membantu para petani untuk bisa menuai atau memanen hasil panennya bahkan sampai malam hari,” ujarnya.

Rasa syukur tersebut kemudian diwujudkan dalam tradisi menyantap dan mempersembahkan kue bulan atau kue Pia. Ia menjelaskan, bahan-bahan yang digunakan dalam kue bulan pada masa lalu juga berkaitan dengan bahan pangan yang dapat disimpan dalam waktu relatif lama, seperti kacang hijau, kacang merah, wijen, dan gandum.

Bentuk kue bulan dengan bagian tengah yang menyerupai bulan purnama juga memiliki makna simbolik.

“Itulah mungkin makna dasar daripada kue Pia. Jadi kue Pia juga adalah persembahan untuk melekatkan semua unsur keluarga,” katanya.

Bukan Sekadar Tradisi

Bagi Wijaya Chandra, perayaan Festival Kue Bulan di Palu memiliki makna yang lebih luas. Tradisi tersebut menjadi sarana mempertemukan keluarga dan berbagai elemen masyarakat dalam suasana kebersamaan.

Ia juga mengaitkan perayaan tahun ini dengan kenangan terhadap bencana besar yang melanda Palu dan sejumlah wilayah di Sulawesi Tengah pada 2018.

Menurutnya, perayaan di bawah bulan purnama menjadi kesempatan untuk mendoakan kesehatan, keselamatan dan kebahagiaan keluarga, sekaligus mengenang sahabat, kerabat, dan masyarakat yang meninggal dunia dalam bencana tersebut.

“Nanti saya berharap Sekretaris MUI Sulawesi Tengah, Ustaz Ulumudin, akan memimpin doa kami bersama,” ujarnya.

Doa tersebut, kata dia, tidak hanya ditujukan bagi keluarga dan tamu yang hadir, tetapi juga bagi mereka yang telah mendahului, khususnya para korban bencana 2018.

Budaya Sekaligus Penggerak Ekonomi

Wijaya Chandra juga menyoroti sisi ekonomi dari Festival Kue Bulan. Menurutnya, tradisi budaya tidak hanya memiliki nilai sosial dan simbolik, tetapi juga mampu menciptakan aktivitas ekonomi.

Ia mencontohkan besarnya konsumsi kue bulan di Tiongkok setiap kali festival berlangsung. Produk tersebut tersedia di berbagai supermarket dan toko, bahkan dalam jumlah yang sangat besar.

Fenomena serupa juga terjadi di Indonesia. Kue bulan tidak hanya dikonsumsi oleh masyarakat Tionghoa, tetapi turut dinikmati masyarakat dari berbagai latar belakang.

“Ini juga membantu unsur ekonomi, budaya, dan tetap menjaga silaturahmi dan kebersamaan keluarga,” katanya.

Ia menilai keberadaan Festival Kue Bulan dapat menjadi contoh bagaimana sebuah tradisi mampu bertahan sekaligus beradaptasi dalam masyarakat yang majemuk.

Dorong Budaya yang Memperkuat Kecintaan terhadap Indonesia

Dalam kesempatan tersebut, Wijaya Chandra juga menyampaikan apresiasi kepada tim KOCI Sulawesi Tengah yang telah menyelesaikan proses pemilihan dan akan membawa nama Sulawesi Tengah ke tingkat nasional.

Menurutnya, kegiatan kebudayaan harus diarahkan menjadi ruang untuk membangun nilai-nilai positif, termasuk memperkuat kecintaan terhadap Indonesia.

“Kita menciptakan sebuah budaya positif bagaimana bisa tetap cinta tanah air Indonesia,” ujarnya.

Festival Kue Bulan di Millennium Water Park Palu pun tidak hanya menjadi perayaan tradisi. Baginya, kegiatan tersebut merupakan titik temu antara budaya, keluarga, ekonomi, kebersamaan, dan refleksi atas perjalanan masyarakat Palu setelah bencana 2018.

Di bawah bulan purnama, pesan yang dibawa dalam perayaan itu sederhana:

menjaga kebersamaan, merawat silaturahmi, menghormati mereka yang telah pergi, dan memastikan tradisi tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di tengah keberagaman, Tutupnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *