Scroll untuk baca artikel
SENI BUDAYA

Kiprah Masyarakat Tionghoa Palu dalam Musik dan Olahraga Sejak 1950-an

153
×

Kiprah Masyarakat Tionghoa Palu dalam Musik dan Olahraga Sejak 1950-an

Sebarkan artikel ini
FOTO: Ilustrasi

PALU, CINDOnews — Kontribusi masyarakat Tionghoa dalam kehidupan Kota Palu tidak hanya tercatat melalui aktivitas perdagangan. Sejak 1950-an, mereka turut meramaikan kehidupan sosial dan budaya kota melalui kelompok musik, organisasi kepemudaan, dan perkumpulan olahraga. Jejak ini menunjukkan bahwa warga Tionghoa telah menjadi bagian dari dinamika masyarakat Palu jauh sebelum berbagai perubahan politik pada masa Orde Baru.

Catatan dalam buku Tanah Kaili terbitan Djawatan Penerangan Kabupaten Donggala tahun 1956, menyebut sejumlah perkumpulan yang melibatkan tokoh-tokoh Tionghoa. Di antaranya Orkes Irama Indonesia di bawah pimpinan Tjan Tek Kok dan Orkes Gelora Pemuda yang dipimpin Tjao Ising. Pada periode yang sama, terdapat organisasi pemuda Hoa Kiao Kong Hui yang diketuai Liem Tjek Tjun serta Persatuan Olah Raga Tionghoa Palu di bawah pimpinan Sie Tiong Ho alias Ta.

Keberadaan organisasi tersebut memperlihatkan beragam bentuk partisipasi masyarakat Tionghoa dalam kehidupan kota. Mereka tidak hanya bergerak di bidang ekonomi, tetapi juga terlibat dalam kegiatan kesenian, kepemudaan, dan olahraga yang menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Palu.

Catatan sejarah ini relevan untuk mengingat bahwa semangat kebangsaan tumbuh melalui beragam bentuk kontribusi warga. Persatuan Indonesia bukan hanya dibangun melalui peristiwa besar dan perjuangan politik, tetapi juga melalui kegiatan sehari-hari yang memperkaya kehidupan masyarakat.

Musik dan Organisasi Menjadi Bagian Kehidupan Kota

Keberadaan Orkes Irama Indonesia dan Orkes Gelora Pemuda menunjukkan bahwa musik telah menjadi salah satu ruang aktivitas masyarakat Palu pada 1950-an. Kedua kelompok tersebut memiliki pemimpin yang tercatat dalam sumber sejarah lokal, meskipun informasi mengenai pertunjukan, repertoar, dan jangkauan penontonnya masih memerlukan penelusuran lebih lanjut.

Hal serupa terlihat melalui Hoa Kiao Kong Hui dan Persatuan Olah Raga Tionghoa Palu. Keduanya memperlihatkan bahwa kehidupan masyarakat Tionghoa juga berkembang melalui organisasi dan kegiatan bersama, bukan semata-mata melalui hubungan perdagangan.

Catatan tersebut memberikan perspektif yang lebih luas mengenai sejarah masyarakat Tionghoa di Palu. Mereka merupakan bagian dari kehidupan sosial perkotaan yang terbentuk melalui berbagai kegiatan, hubungan antarmanusia, serta ruang pertemuan di luar aktivitas ekonomi.

Relasi sosial dan Pengalaman Hidup Bersama

Dalam tesis Beradaptasi dalam Sunyi: Kehidupan Sehari-hari Masyarakat Tionghoa di Kota Palu (1966–1998), Jefrianto menjelaskan bahwa sebelum 1965, masyarakat Tionghoa telah membangun relasi sosial dengan masyarakat Kaili dan kelompok etnis lainnya melalui perdagangan, pendidikan, penggunaan bahasa Kaili, kehidupan bertetangga, serta berbagai aktivitas sehari-hari.

Hubungan tersebut membentuk jaringan kepercayaan dan hubungan timbal balik yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Tionghoa di Palu. Relasi sosial ini kemudian menjadi modal sosial ketika perubahan politik membawa pembatasan terhadap pendidikan, organisasi komunitas, dan ekspresi budaya Tionghoa.

Dalam konteks perkembangan organisasi masyarakat, pada dekade berikutnya muncul Basketball Association Palu Indonesia (BASPI), yang didirikan pada 1969 sebagai salah satu wadah kegiatan pemuda Tionghoa di Palu melalui olahraga basket. Kehadiran BASPI pada periode berbeda tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang aktivitas kolektif masyarakat Tionghoa di kota ini.

Cinta Indonesia Melalui Kontribusi Nyata

Sejarah masyarakat Tionghoa di Palu memberikan pengingat bahwa kecintaan terhadap Indonesia dapat diwujudkan melalui banyak cara. Berkesenian, berorganisasi, mengembangkan olahraga, dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat merupakan bagian dari kontribusi warga dalam membangun lingkungan sosialnya.

Persatuan tidak harus berarti menghilangkan seluruh perbedaan budaya. Dalam masyarakat yang beragam, kehidupan bersama justru dibangun melalui hubungan sosial, kepercayaan, dan kesediaan setiap kelompok untuk mengambil bagian dalam perkembangan masyarakat.

Perspektif ini penting di tengah upaya menjaga persatuan nasional. Sejarah kebangsaan akan lebih utuh apabila kontribusi berbagai kelompok masyarakat, termasuk warga Tionghoa di daerah, mendapatkan tempat yang layak dalam ingatan kolektif.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa Indonesia bukan hanya dibangun oleh tokoh besar dan peristiwa monumental. Indonesia juga tumbuh melalui kontribusi warga dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui musik, organisasi pemuda, olahraga, dan hubungan sosial yang telah terjalin lintas generasi.

Sejarah tersebut mengajak masyarakat untuk memaknai persatuan sebagai kerja bersama yang berlangsung terus-menerus. Mengakui kontribusi berbagai kelompok masyarakat bukan sekadar upaya mengenang masa lalu, melainkan bagian dari merawat Indonesia yang beragam dan memperkuat rasa memiliki terhadap tanah air.

Sumber:

  1. Djawatan Penerangan Kabupaten Donggala, Tanah Kaili, 1956.
  2. Jefrianto, Beradaptasi dalam Sunyi: Kehidupan Sehari-hari Masyarakat Tionghoa di Kota Palu (1966–1998). Tesis Magister Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, 2026.