Perjalanan dari Balikpapan menuju Donggala dengan KM Dorolonda pada 31 Oktober 2026 menjadi pengalaman menyaksikan kembalinya layanan reguler PELNI ke kota pelabuhan yang pernah menjadi simpul perdagangan penting di pesisir barat Sulawesi. Di tengah antusiasme warga menyambut kedatangan kapal, tersimpan sejarah panjang tentang perpindahan pelabuhan, perubahan wajah kota, dan harapan untuk menghidupkan kembali aktivitas ekonomi Donggala.
Oleh: Jefrianto (jurnalis juga pemerhati sejarah)
Matahari pagi tampak kemerahan di balik lapisan kabut asap akibat karhutla, ketika saya berdiri di Dek 5 KM Dorolonda. Garis pantai pesisir Boneoge, kemudian Tanjung Karang perlahan terlihat di kejauhan. Pagi itu, Sabtu, 31 Oktober 2026, kapal yang saya tumpangi bersama istri dan anak ini, sedang menempuh bagian akhir perjalanan dari Balikpapan menuju Donggala.
Perjalanan ini bermula dari kepulangan kami setelah menghadiri rangkaian kegiatan wisuda saya di UGM, Yogyakarta. Kami memilih terbang dari Yogyakarta ke Balikpapan, kemudian melanjutkan perjalanan melalui jalur laut. Pertimbangannya cukup praktis. Harga tiket kapal relatif terjangkau, sementara kabar mengenai asap dan kabut yang berpotensi mengganggu penerbangan menuju Palu, membuat perjalanan laut menjadi alternatif yang masuk akal.
Namun, ada alasan lain yang membuat perjalanan ini menarik bagi saya. Saya ingin turut serta menjadi saksi sejarah kedatangan KM Dorolonda di Pelabuhan Donggala. Kapal PELNI tersebut dijadwalkan mulai melayani rute reguler dari pelabuhan ini. Bagi saya, perjalanan pulang kali ini memiliki dua dimensi. Pertama, pengalaman sebagai penumpang. Kedua, kesempatan menyaksikan perubahan dalam sejarah transportasi laut di Donggala.
KM Dorolonda tiba di Balikpapan pada Jumat, 30 Oktober 2026, sekitar pukul 17.30 WITA, terlambat sekitar 30 menit dari jadwal semula. Kapal bertolak kembali pada pukul 19.30 WITA. Malam berlalu di tengah aktivitas penumpang yang sebagian besar beristirahat. Kami menunggu pagi, sekaligus menantikan saat kapal memasuki kawasan Teluk Palu.
Kota yang Menyambut Kedatangan Kapal
Dari Dek 5, pesisir Boneoge dan kawasan wisata Tanjung Karang tampak di sisi kanan kapal. KM Dorolonda bergerak mengikuti garis pantai hingga mencapai ujung Tanjung Karang, kemudian berbelok memasuki Teluk Palu.
Bangunan terminal penumpang Pelabuhan Donggala mulai terlihat dari kejauhan. Kapal kemudian memutar haluan untuk mengambil posisi sandar. Perlahan, sisi kiri KM Dorolonda merapat ke dermaga.
Pemandangan di pelabuhan pagi itu memberikan kesan berbeda dari kedatangan kapal pada umumnya. Warga Donggala tampak antusias menyaksikan kapal tersebut. Banyak di antara mereka datang bukan untuk menjemput keluarga atau mengantar penumpang, melainkan sekadar ingin melihat KM Dorolonda berlabuh untuk pertama kalinya di pelabuhan mereka.
Dari atas kapal, saya melihat orang-orang yang memusatkan perhatian pada kapal besar yang perlahan mendekati dermaga. Wajah mereka tampak berbinar. Ada semacam kegembiraan yang sulit dipisahkan dari harapan. Bagi sebagian warga, kedatangan kapal PELNI bukan sekadar tambahan pilihan transportasi, melainkan pertanda bahwa aktivitas yang pernah menjadi bagian dari kehidupan kota mereka mungkin akan kembali tumbuh.
Suasana penyambutan tidak berhenti di dermaga. Ketika para penumpang mulai menuruni tangga kapal, sejumlah pegawai Dinas Perhubungan Kabupaten Donggala telah menunggu. Setiap penumpang yang turun disambut dan diberikan kudapan berupa roti. Kami pun menerima roti tersebut ketika menuruni tangga kapal.
Gestur sederhana itu menjadi bagian dari pengalaman kedatangan yang sulit dilupakan. Setelah perjalanan laut dari Balikpapan, penumpang tidak hanya disambut oleh seremoni sandar perdana, tetapi juga oleh keramahan para pegawai yang berdiri di pintu keluar kapal. Roti yang dibagikan mungkin bukan sesuatu yang besar, tetapi dalam suasana pagi itu, pemberian tersebut terasa sebagai bentuk perhatian dan ucapan selamat datang kepada orang-orang yang baru tiba di Donggala.
Ketika kaki akhirnya menginjak dermaga, saya semakin merasakan bahwa kedatangan kapal ini memiliki arti tersendiri bagi masyarakat setempat. Sejumlah warga masih bertahan di sekitar pelabuhan, menyaksikan penumpang turun dan mengamati aktivitas kapal. Mereka seolah tidak ingin melewatkan momen yang telah lama dinantikan.
Kesan itu semakin kuat ketika kami melanjutkan perjalanan keluar dari area kapal. Seorang buruh angkut atau porter yang membantu membawa barang-barang kami, menyampaikan kegembiraannya atas kehadiran kapal PELNI di Donggala. Menurutnya, masyarakat sudah sangat lama menantikan kapal PELNI kembali melayani wilayah tersebut.
Harapan porter itu sederhana, tetapi memiliki makna ekonomi yang nyata. Ia berharap kedatangan kapal akan meningkatkan aktivitas di pelabuhan dan memberikan lebih banyak pekerjaan bagi warga. Bagi dirinya, kapal yang merapat berarti kemungkinan bertambahnya penumpang, barang bawaan, dan orang-orang yang membutuhkan jasa angkut.
Percakapan singkat tersebut terasa penting bagi saya. Sejarah perpindahan pelabuhan selama ini dapat dibaca melalui kebijakan pemerintah, perubahan status pelabuhan, dan pemberitaan surat kabar. Namun, bagi orang seperti porter bernomor punggung 2 itu, dampaknya hadir dalam kehidupan sehari-hari. Ramai atau sepinya pelabuhan dapat menentukan apakah ia memperoleh pekerjaan pada hari itu.
Antusiasme warga, sambutan berupa roti, dan harapan seorang porter membuat kedatangan Dorolonda terasa lebih dari sekadar seremoni sandar perdana. Kapal itu membawa kembali kemungkinan hadirnya arus manusia dan kegiatan ekonomi yang pernah menjadi bagian penting kehidupan Donggala.
Untuk sesaat, kota tua ini seperti hidup kembali. Ada kerumunan, aktivitas di dermaga, penumpang yang turun, barang-barang yang diangkut, dan warga yang menyaksikan kapal. Pemandangan itu mengingatkan pada hiruk pikuk yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan kota pelabuhan sebelum pusat kegiatan pelayaran bergeser ke Pantoloan.
Menyusuri Kembali Ruang Maritim Donggala
Pemandangan pesisir yang kami lewati sebelum kapal bersandar mengingatkan saya bahwa perjalanan ini berlangsung di ruang geografis yang sejak lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Donggala. Selat Makassar bukan sekadar jalur yang menghubungkan Balikpapan dengan Sulawesi Tengah. Perairan ini telah menjadi ruang pergerakan manusia, barang, dan kapal yang membentuk hubungan perdagangan antarpulau.
Donggala memperoleh posisi penting karena letaknya di pesisir barat Sulawesi, berhadapan langsung dengan jalur pelayaran tersebut. Sebelum transportasi darat dan udara berkembang seperti sekarang, laut menjadi salah satu penghubung utama antara wilayah ini dengan pusat-pusat perdagangan di kawasan lain.
Dari kapal, garis pantai yang kami lewati tampak sebagai bagian dari panorama perjalanan. Namun, dalam sejarahnya, kawasan pesisir itu merupakan ruang ekonomi yang hidup. Kapal-kapal dagang datang membawa barang, penumpang berpindah antarpulau, dan kegiatan bongkar muat menghubungkan pelabuhan dengan permukiman serta wilayah pedalaman. Laut bukan sekadar latar belakang kehidupan kota. Laut justru menjadi salah satu unsur yang membentuknya.
Sejarah Donggala sebagai kota pelabuhan memperlihatkan hubungan erat antara aktivitas maritim dan pertumbuhan perkotaan. Buku Satu Kota Empat Zaman: Donggala pada Masa Tradisional hingga Terbentuknya Kabupaten karya Lukman Nadjamuddin, Idrus A. Rore, Iskandar Ahmad, Nuraedah, dan Wilman Darsono (2016) merekam perjalanan kota ini dari masa tradisional, kolonial, pendudukan Jepang, hingga periode kemerdekaan. Aktivitas perdagangan dan hubungan maritim menjadi salah satu unsur penting dalam perkembangan Donggala.
Letaknya yang menghadap Selat Makassar memungkinkan kota ini terhubung dengan jaringan perdagangan antarpulau. Komoditas kopra, antara lain, pernah menjadi bagian penting kegiatan ekonomi. Gudang-gudang perdagangan, aktivitas bongkar muat, serta keberadaan buruh pelabuhan turut membentuk kehidupan masyarakatnya.
Pentingnya posisi tersebut juga terlihat dalam pemberitaan Kompas pada 7 Desember 1966 berjudul “Donggala dan Posso Pelabuhan-pelabuhan Export”. Berita itu mencatat Donggala dan Poso sebagai pelabuhan ekspor yang membutuhkan pengembangan fasilitas. Pada masa itu, Donggala masih diperhitungkan sebagai salah satu simpul penting dalam kegiatan perdagangan dan transportasi laut.
Pelabuhan tidak sekadar menyediakan tempat bagi kapal untuk berlabuh. Keberadaannya membentuk kehidupan di sekitarnya. Gudang penyimpanan, pasar, permukiman, jasa transportasi, tenaga kerja bongkar muat, dan berbagai kegiatan ekonomi tumbuh mengikuti arus yang dihasilkan pelabuhan.
Dengan demikian, ketika aktivitas pelabuhan berubah, dampaknya tidak berhenti pada dermaga. Seluruh hubungan ekonomi dan sosial yang bergantung pada arus tersebut juga ikut berubah.
Ketika Pelabuhan Berpindah, Kota Berbalik
Pembangunan Pelabuhan Pantoloan pada pertengahan 1970-an menjadi titik penting dalam perubahan tersebut. Pelabuhan itu diresmikan pada 2 Mei 1978 dan secara bertahap mengambil alih sebagian besar fungsi pelabuhan yang sebelumnya dijalankan Donggala.
Dalam tulisan “‘Pantoloanisasi’ Pelabuhan Donggala Pasang Surut” yang terbit di Media Alkhairaat pada 9 April 2022, Jamrin Abubakar menjelaskan bahwa berdasarkan keputusan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut pada 28 Maret 1978, Pantoloan pada awalnya ditetapkan sebagai verlengstuk, atau pelabuhan perpanjangan dari Pelabuhan Donggala. Dalam perkembangannya, Pantoloan justru menjadi pusat kegiatan pelabuhan, sementara Donggala berada pada posisi sebagai wilayah kerja.
Perubahan tersebut berlangsung melalui proses yang tidak sederhana. Pemberitaan Suara Karya pada 14 April 1980 mengutip pernyataan J.B. Sumarlin mengenai kemungkinan Donggala dipertahankan sebagai pelabuhan perintis, sedangkan Pantoloan dikembangkan sebagai pelabuhan nusantara dan ekspor. Pernyataan itu masih berupa kemungkinan yang perlu dibicarakan lebih lanjut dengan kementerian terkait.
Aktivitas kapal penumpang di Donggala tidak langsung berhenti setelah Pantoloan diresmikan. Pemberitaan Nusaputra pada 30 Juli 1983 mencatat kedatangan KM Kota Bali yang disambut masyarakat di Pelabuhan Donggala. Kapal tersebut bukan kapal PELNI, tetapi catatan itu menunjukkan bahwa pelabuhan lama masih menerima kapal penumpang setelah Pantoloan mulai beroperasi.
Sementara itu, pemberitaan Kompas pada 18 September 1984 dan 20 Februari 1985 memperlihatkan semakin pentingnya Pantoloan dalam jaringan pelayaran PELNI. Pemerintah daerah bahkan pernah meminta agar kapal-kapal PELNI tetap menyinggahi Pantoloan karena aktivitas penumpang di pelabuhan tersebut cukup tinggi. KM Kambuna dan KM Kerinci kemudian diberitakan akan melayani persinggahan di sana.
Pergeseran itu bukan sekadar perubahan teknis dalam sistem kepelabuhanan. Ia ikut mengubah hubungan antara Donggala dan Palu. Sebelumnya, Donggala merupakan simpul perdagangan dan pelayaran yang menghubungkan wilayah pedalaman dengan jaringan maritim Selat Makassar. Palu, dalam struktur ekonomi tersebut, lebih banyak terhubung dengan arus perdagangan melalui Donggala.
Keadaan berubah ketika fungsi pelabuhan utama bergeser ke Pantoloan. Palu memiliki keuntungan geografis karena jaraknya relatif dekat dengan pelabuhan baru itu. Bersamaan dengan kedudukannya sebagai ibu kota provinsi sejak 1964, perkembangan fasilitas pemerintahan, jalan, dan pusat pelayanan publik semakin memperkuat posisinya sebagai pusat pertumbuhan kawasan.
Dengan kata lain, pertumbuhan Palu tidak dapat dijelaskan semata-mata sebagai perkembangan alamiah sebuah kota. Kebijakan infrastruktur negara ikut menentukan arah pertumbuhan itu. Ketika arus pelayaran, perdagangan, dan transportasi terkonsentrasi di Pantoloan, Palu memperoleh limpahan aktivitas yang sebelumnya lebih erat terhubung dengan Donggala.
Sebaliknya, Donggala menghadapi perubahan kedudukan. Kota yang pernah menjadi pusat kegiatan maritim perlahan kehilangan sebagian mesin ekonomi yang membentuk kehidupan perkotaannya. Dalam tulisan saya sebelumnya, Ketika Pelabuhan Berpindah, Kota Berbalik: Donggala–Palu dalam Ayunan Sejarah, saya melihat perubahan tersebut sebagai pembalikan hierarki urban. Perpindahan simpul infrastruktur ikut mengubah hubungan pusat dan pinggiran antara kedua kota.
Dampaknya tidak hanya terlihat dalam statistik pelayaran atau status administratif pelabuhan. Bagi masyarakat, perubahan itu menyangkut pekerjaan, akses pasar, jasa transportasi, perdagangan kecil, serta berbagai sumber penghidupan yang bergantung pada arus penumpang dan barang.
Dalam konteks itulah, pemandangan warga yang menyambut KM Dorolonda pada pagi 31 Oktober 2026 memperoleh makna lebih dalam. Wajah-wajah yang berbinar, sambutan roti dari pegawai perhubungan, dan harapan porter bernomor punggung 2 memperlihatkan, pelabuhan memiliki tempat dalam ingatan sosial masyarakat. Apa yang mereka nantikan bukan hanya kapal besar yang merapat, melainkan kemungkinan hidupnya kembali aktivitas yang dahulu menjadi bagian dari keseharian kota.
Namun, sejarah juga mengingatkan, perubahan fungsi pelabuhan selalu memiliki konsekuensi sosial. Ketika arus dipindahkan, sebagian masyarakat memperoleh peluang baru, sementara sebagian lainnya harus menghadapi risiko kehilangan sumber penghidupan. Karena itu, antusiasme warga Donggala tidak seharusnya dibaca sebagai kemenangan satu kota atas kota lainnya.
Penolakan warga Pantoloan terhadap rencana pemindahan kapal penumpang PELNI ke Donggala pada akhir 2025 juga perlu ditempatkan dalam konteks tersebut. Penolakan itu bukan semata-mata persoalan mempertahankan tempat kapal bersandar. Ada kehidupan ekonomi yang telah terbentuk selama puluhan tahun di sekitar aktivitas pelabuhan. Buruh, pedagang, sopir, dan pelaku jasa informal memiliki ketergantungan terhadap arus penumpang yang datang dan pergi.
Sejarah ini memberi satu pelajaran penting, yakni setiap perubahan kebijakan pelabuhan selalu memiliki konsekuensi bagi masyarakat yang hidup di sekitarnya.
Pelabuhan yang Dibangun Kembali
Kembalinya aktivitas di Pelabuhan Donggala memperoleh momentum setelah bencana gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi pada 28 September 2018. Pembangunan kembali fasilitas pelabuhan menjadi bagian dari pemulihan infrastruktur transportasi di wilayah tersebut.
Rekonstruksi dimulai pada 15 Februari 2022 dan diselesaikan pada 10 Maret 2024. Pekerjaan meliputi pembangunan dermaga, apron, terminal penumpang dua lantai, kantor, dan sejumlah fasilitas pendukung.
Pada 26 Juli 2024, terminal penumpang kembali dioperasikan. Pelayaran perdana ditandai dengan kedatangan dan keberangkatan KM Dharma Kencana V milik PT Dharma Lautan Utama (DLU) pada rute Donggala – Balikpapan – Surabaya.
Fakta ini penting karena menunjukkan bahwa kedatangan KM Dorolonda bukanlah awal beroperasinya kembali Pelabuhan Donggala. Angkutan penumpang telah lebih dahulu berjalan melalui layanan DLU. Peristiwa pada Oktober 2026 menandai babak berikutnya, yakni masuknya kembali Donggala dalam layanan reguler PELNI.
KM Dorolonda akan melayani Donggala, sementara KM Lambelu tetap melayani Pelabuhan Pantoloan. Dengan demikian, yang terjadi bukan pemindahan seluruh layanan penumpang PELNI dari Pantoloan ke Donggala, melainkan pembagian pelayanan melalui dua pelabuhan di kawasan Teluk Palu.
Pembagian ini membuka peluang baru, tetapi belum dengan sendirinya mengubah struktur ekonomi kawasan. Kehadiran kapal di Donggala tidak otomatis mengembalikan kedudukan kota itu seperti ketika menjadi pusat perdagangan dan pelayaran. Begitu pula, keberadaan layanan di Pantoloan tetap perlu mempertimbangkan kehidupan ekonomi masyarakat yang telah terbentuk di sekitarnya.
Kembalinya layanan PELNI sebaiknya dibaca sebagai kesempatan untuk membangun hubungan baru antara kedua pelabuhan. Pertanyaannya bukan lagi semata-mata pelabuhan mana yang lebih besar atau lebih ramai, melainkan bagaimana arus manusia dan barang dapat dikelola agar manfaatnya menjangkau lebih banyak wilayah dan kelompok masyarakat.
Menghidupkan Pelabuhan, Menghidupkan Kota
Dalam seremoni penyambutan KM Dorolonda, Bupati Donggala, Vera Elena Laruni menyampaikan, rencana pengembangan pelabuhan di kawasan Teluk Palu telah dibicarakan sejak 2022. Rencana tersebut menempatkan Donggala sebagai pelabuhan penumpang dan Pantoloan sebagai pelabuhan peti kemas.
Vera berharap pengembangan kedua pelabuhan tidak dipandang sebagai persaingan antara Donggala dan Palu. Keduanya justru perlu saling mendukung dalam membangun konektivitas dan pertumbuhan ekonomi kawasan.
Ia juga menggunakan metafora hubungan ibu dan anak untuk menggambarkan sejarah keterhubungan Donggala dengan daerah-daerah yang kemudian berkembang menjadi wilayah administratif tersendiri. Dalam sambutannya, ia mengatakan, “Seorang ibu, kemarin kita ikhlas ditinggalkan oleh anak kita demi kejayaan Kota Palu.”
Pernyataan itu mengingatkan pada perubahan sejarah wilayah. Donggala pernah menjadi pusat yang menaungi kawasan sekitarnya. Seiring perkembangan kota dan pembentukan daerah otonom, hubungan tersebut berubah. Pusat pemerintahan, perdagangan, dan transportasi kemudian tumbuh dengan arah masing-masing.
Pemerintah Kabupaten Donggala berharap layanan kapal penumpang dapat memberikan dampak langsung bagi masyarakat. Selain meningkatkan mobilitas, pemerintah daerah merencanakan pengembangan fasilitas pendukung, seperti area parkir, ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, serta kemungkinan layanan kapal kecil yang menghubungkan Donggala dengan kawasan Wani, Lero, dan Sirenja.
Rencana tersebut penting karena sejarah Donggala menunjukkan bahwa kehidupan kota pelabuhan tidak pernah hanya berlangsung di dermaga. Aktivitas pelabuhan selalu terhubung dengan kehidupan di darat. Ketika kapal datang, ada penumpang yang membutuhkan transportasi lanjutan, pedagang yang menunggu pembeli, sopir yang menawarkan jasa, serta pelaku usaha yang menyediakan berbagai kebutuhan perjalanan.
Harapan porter bernomor punggung 2 yang saya temui pagi itu, menjadi gambaran sederhana dari hubungan tersebut. Ia tidak berbicara tentang rencana induk pelabuhan atau pembagian fungsi antara Donggala dan Pantoloan. Ia melihat kedatangan kapal dari sudut yang lebih dekat dengan kehidupannya, yakni apakah pelabuhan akan semakin ramai dan apakah keramaian itu akan mendatangkan pekerjaan.
Pertanyaan itu semestinya menjadi salah satu ukuran keberhasilan pengembangan pelabuhan. Jika arus penumpang tidak terhubung dengan kegiatan ekonomi masyarakat, pelabuhan berisiko hanya menjadi tempat kapal datang dan pergi. Sebaliknya, jika fasilitas dan konektivitas dikembangkan secara terpadu, kedatangan kapal dapat mendorong aktivitas ekonomi yang lebih luas.
Hal yang sama berlaku bagi Pantoloan. Pengembangan Donggala tidak harus berarti mengabaikan masyarakat yang telah menggantungkan kehidupan ekonominya pada pelabuhan di wilayah tersebut. Perubahan kebijakan perlu memperhitungkan dampak bagi kedua kawasan. Tujuannya bukan memindahkan pusat dan pinggiran secara bergantian, melainkan memperluas manfaat pembangunan.
Pulang Bersama Sejarah
Setelah turun dari KM Dorolonda, perjalanan kami sebagai penumpang telah selesai. Namun, kedatangan kapal itu meninggalkan kesan yang lebih panjang daripada perjalanan itu sendiri.
Saya masih mengingat warga yang berkerumun menyaksikan kapal merapat, wajah-wajah yang berbinar, para pegawai perhubungan yang menyambut penumpang dengan roti, dan porter bernomor punggung 2 yang menyampaikan harapannya. Pemandangan tersebut memperlihatkan bahwa pelabuhan bukan sekadar bangunan dan fasilitas teknis. Ia juga menyimpan ingatan, kebanggaan, keramahan, dan harapan masyarakat yang hidup di sekitarnya.
Dalam perjalanan dari Balikpapan, saya melihat garis pantai yang sejak lama menjadi bagian dari sejarah maritim kawasan ini. Ketika kapal memasuki Teluk Palu dan merapat di dermaga, saya menyaksikan fasilitas pelabuhan yang dibangun kembali setelah bencana mulai memperoleh fungsi baru. Sementara itu, catatan sejarah memperlihatkan bagaimana perubahan infrastruktur pada masa lalu ikut menggeser pusat pertumbuhan dari Donggala menuju Palu.
Ketiga pengalaman itu saling berkaitan. Laut yang kami lintasi merupakan ruang perdagangan dan mobilitas sejak masa lalu. Pelabuhan yang kami singgahi merupakan bagian dari perubahan kebijakan dan infrastruktur negara. Kedatangan KM Dorolonda menjadi penanda bahwa Donggala kembali memperoleh tempat dalam jaringan pelayaran reguler PELNI.
Namun, sejarah juga mengingatkan bahwa kejayaan sebuah kota pelabuhan tidak cukup dibangun melalui kedatangan kapal. Kota tumbuh karena arus yang melewatinya menciptakan hubungan ekonomi dan sosial. Ketika arus itu berpindah, kehidupan kota ikut berubah. Karena itu, menghidupkan kembali pelabuhan berarti juga membangun kembali hubungan antara pelabuhan, kota, dan masyarakatnya.
Bagi saya, satu kali sandar kapal belum cukup untuk mengembalikan Donggala pada kedudukan masa lalunya. Keberlanjutan layanan, konektivitas dengan wilayah sekitar, fasilitas penumpang, dan keterlibatan pelaku ekonomi lokal akan menentukan apakah momentum ini benar-benar membawa perubahan.
Saya datang sebagai penumpang yang ingin pulang melalui jalur laut. Tetapi perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa pulang terkadang juga berarti menyusuri kembali sejarah tempat yang dituju. Pagi itu, KM Dorolonda tidak hanya membawa kami dari Balikpapan ke Donggala. Kapal itu juga mengingatkan bahwa sejarah sebuah kota dapat bergerak mengikuti arus laut, keputusan negara, dan kehidupan masyarakat yang tumbuh di sekitarnya.
Donggala pernah menjadi pusat karena pelabuhannya. Ia kemudian kehilangan sebagian perannya ketika arus berpindah ke Pantoloan. Kini, kedatangan Dorolonda menghadirkan harapan agar sebagian denyut kehidupan itu kembali. Harapan tersebut tidak hanya terdengar dalam sambutan pejabat atau rencana pengembangan pelabuhan, tetapi juga terlihat pada wajah warga yang menyaksikan kapal merapat, terasa dalam sambutan sederhana berupa roti, dan terdengar dalam percakapan singkat dengan seorang porter.
Mungkin, ukuran paling nyata dari kebangkitan sebuah pelabuhan bukanlah seberapa besar kapal yang dapat disandarkan, melainkan seberapa jauh kedatangannya mampu menghidupkan kembali kota dan memberi arti bagi orang-orang yang tinggal di dalamnya.






