PALU, CINDOnews — Sulawesi Tengah menempati peringkat kedua nasional dalam realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA), setelah Jawa Barat. Capaian ini mencerminkan besarnya potensi ekonomi daerah, tetapi tingginya minat investor perlu diimbangi dengan ketersediaan infrastruktur pendukung dan kesiapan sumber daya manusia (SDM) lokal.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sulawesi Tengah, Wijaya Chandra, menilai ketersediaan listrik dan bahan bakar minyak (BBM) menjadi faktor mendasar yang menentukan keberlangsungan usaha sekaligus daya tarik investasi di daerah.
“Masalah PLN dan Pertamina itu adalah jantung segalanya. Tidak ada usaha yang tidak pakai listrik dan juga BBM. Kalau ketersediaannya dan posisinya tidak bisa men-support, itu pasti membuat investor tidak akan masuk,” kata Wijaya saat diwawancarai mengenai tantangan pelaku usaha di tengah tingginya minat investasi di Sulawesi Tengah, Kamis 22/10/26.
Menurutnya, listrik dan BBM merupakan kebutuhan vital bagi berbagai sektor usaha. Karena itu, kepastian pasokan dan kemampuan infrastruktur energi dalam mendukung aktivitas ekonomi perlu menjadi perhatian pemerintah dan pihak terkait agar peluang investasi yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal.
Di sisi lain, kekayaan sumber daya alam menjadi salah satu faktor utama yang menarik investor ke Sulawesi Tengah. Potensi mineral, terutama nikel, menjadi daya tarik bagi kegiatan investasi di sektor pertambangan dan industri pengolahan. Namun, Wijaya mengingatkan bahwa eksploitasi sumber daya alam juga membawa risiko kerusakan lingkungan yang perlu diperhitungkan.
Ia menilai pengembangan ekonomi hijau melalui sektor pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan perlu mendapat perhatian lebih besar. Sektor-sektor tersebut dinilai memiliki prospek jangka panjang karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat.
“Saya lebih cenderung untuk ekonomi hijau di pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan. Saya pikir itu juga semua potensi besar, karena kebutuhan hidup manusia, makan minum itu tidak akan berkurang,” ujarnya.
Selain infrastruktur dan arah pengembangan ekonomi, kesiapan tenaga kerja lokal juga menjadi tantangan yang perlu segera dibenahi. Wijaya menilai sebagian pencari kerja di Sulawesi Tengah masih menghadapi kesulitan menyesuaikan kompetensi dengan kebutuhan dunia usaha, sementara banyak di antaranya masih berorientasi pada pekerjaan formal.
Padahal, menurut dia, peluang di sektor informal masih terbuka luas, termasuk berbagai jenis usaha yang berkaitan dengan pengembangan industri hijau dan potensi ekonomi daerah.
Karena itu, peningkatan keterampilan melalui pelatihan dan program pemagangan dinilai perlu diarahkan pada sektor usaha yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja dan karakteristik potensi Sulawesi Tengah.
“Ke arah sana lebih dibutuhkan pelatihan dan magang. Kalau mereka mau peningkatan SDM, pemagangan di bidang-bidang usaha yang sesuai dengan kondisi potensi yang ada di Sulawesi Tengah saat ini,” katanya.
Wijaya menekankan pentingnya menghubungkan pemerintah, investor, lembaga pelatihan kerja, dan sekolah-sekolah agar pengembangan kompetensi tenaga kerja tidak berjalan sendiri-sendiri. Dengan keterhubungan tersebut, lulusan pendidikan dan peserta pelatihan diharapkan memiliki keterampilan yang lebih sesuai dengan kebutuhan dunia usaha.
Selain pertambangan dan industri pengolahan, Sulawesi Tengah juga memiliki potensi pada komoditas perkebunan seperti kelapa, durian, kakao, dan cengkeh, serta sektor perikanan darat maupun laut. Pengembangan sektor-sektor tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memperluas sumber pertumbuhan ekonomi sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat lokal.
Capaian investasi PMA di tingkat nasional dengan demikian perlu diikuti langkah konkret untuk memperkuat kepastian pasokan energi, meningkatkan kualitas tenaga kerja, dan mengembangkan sektor ekonomi yang berkelanjutan. Tantangannya bukan hanya menarik modal dari luar, tetapi juga memastikan investasi mampu menciptakan peluang usaha, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Sulawesi Tengah. (*)










