Scroll untuk baca artikel
RUANG PUBLIK

AI Makin Pintar, Apakah Manusia Menjadi Makin Malas Berpikir?

95
×

AI Makin Pintar, Apakah Manusia Menjadi Makin Malas Berpikir?

Sebarkan artikel ini
Rony Sandhi – Jurnalis di Palu
Rony Sandhi – Jurnalis di Palu

Oleh: Rony Sandhi – Jurnalis di Palu

Saya baru saja menonton sebuah video di Instagram yang menampilkan Geoffrey Hinton, salah satu tokoh penting dalam perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Hinton yang dikenal sebagai salah satu “bapak AI” menyampaikan kekhawatirannya tentang masa depan teknologi yang ikut ia kembangkan.

Kekhawatiran itu bukan semata karena AI semakin pintar, tetapi karena teknologi tersebut mulai mampu melakukan pekerjaan yang selama ini dikerjakan manusia.

Tanda-tandanya sebenarnya sudah ada di sekitar kita.

Dulu, untuk membuat poster, flyer, ilustrasi atau desain media sosial, kita membutuhkan orang yang menguasai CorelDraw, Photoshop dan perangkat desain lainnya. Kini, dengan bantuan AI, orang tanpa keahlian desain pun bisa membuatnya hanya dengan memberikan perintah.

Begitu juga dengan AI seperti ChatGPT dan Gemini. Dalam hitungan detik, AI bisa membantu menulis artikel, membuat gambar dan video, menerjemahkan bahasa, merangkum dokumen, mengolah informasi, hingga membuat materi presentasi.

Bahkan pekerjaan yang membutuhkan kemampuan menyusun kata dan gagasan pun mulai disentuh AI. Pidato, artikel, naskah, bahkan teks khutbah dapat dibuat dengan bantuan teknologi ini.

Di industri hiburan, perkembangannya juga semakin terlihat. Drama pendek sebut saja drama Cina yang lagi digandrungi, khususnya bapak-bapak yang beredar di media sosial kini sebagian dapat dibuat dengan bantuan AI. Karakter, wajah, suara, latar hingga adegan bisa diproduksi secara digital.

Meski hasilnya belum selalu sempurna, penonton tetap bisa menikmatinya selama ceritanya menarik. Batas antara karya manusia dan hasil mesin pun perlahan semakin tipis.

Persoalannya bukan hanya soal pekerjaan manusia yang berpotensi tergantikan.

Ada kekhawatiran lain yang lebih dekat dengan kehidupan kita.

Jangan-jangan manusia mulai kehilangan kemampuan berpikir karena terlalu bergantung kepada AI.

Dulu, ketika ingin mengetahui sesuatu, kita membaca. Ketika ingin menulis, kita menyusun gagasan. Ketika ingin membuat desain, kita belajar. Ketika menghadapi masalah, kita mencoba mencari jalan keluar.

Sekarang, sebagian proses itu bisa dilakukan hanya dengan mengetik beberapa kalimat kepada AI.

Kemudahan ini tentu sangat membantu. Tetapi jika terlalu bergantung, kemampuan dasar manusia bisa ikut melemah.

Orang bisa semakin jarang membaca karena AI dapat membuat ringkasan. Jarang menulis karena AI bisa membuatkan tulisan. Jarang mencari ide karena AI dapat memberikan puluhan gagasan dalam hitungan detik.

Di sinilah kita perlu membedakan antara menggunakan AI dan bergantung kepada AI.

AI seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti kemampuan berpikir.

Jurnalis bisa menggunakan AI untuk mengolah data dan mencari sudut pandang. Guru dapat memanfaatkannya untuk membuat bahan pembelajaran.

Mahasiswa bisa menggunakannya untuk memahami materi. Desainer dapat mencari inspirasi. Pengusaha bisa memanfaatkannya untuk membaca data dan pasar.

Namun hasil AI tetap harus diperiksa.

Sebab AI bukan sumber kebenaran mutlak. Ia bisa memberikan informasi yang keliru, bias, bahkan menghasilkan informasi yang sebenarnya tidak ada tetapi disampaikan dengan cara yang terlihat meyakinkan.

Karena itu, semakin pintar teknologi, semakin penting manusia memiliki kemampuan berpikir kritis.

Kita tidak mungkin menghentikan perkembangan AI. Yang bisa dilakukan adalah belajar menggunakannya tanpa kehilangan kemampuan dasar sebagai manusia.

Tetap membaca meski AI bisa merangkum. Tetap menulis meski AI bisa membuat tulisan. Tetap berpikir meski AI bisa memberikan jawaban. Tetap belajar meski AI bisa menjelaskan sesuatu dalam hitungan detik.

Dan yang paling penting, tetap melakukan verifikasi.

Mungkin pertanyaannya bukan lagi, “Apakah AI akan menggantikan manusia?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah, Apakah manusia masih mau menggunakan pikirannya sendiri ketika semua sudah bisa dilakukan oleh AI?

AI boleh semakin pintar. Tetapi jangan sampai karena teknologi membuat hidup semakin mudah, manusia justru kehilangan kemampuan yang membuatnya menjadi manusia yang sesungguhnya.

Sebab masalah terbesar AI mungkin bukan ketika mesin menjadi semakin pintar, melainkan ketika manusia mulai berhenti berpikir.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *