YOGYAKARTA, CINDOnews – Jefrianto, lulusan Program Magister Sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM) yang kini mengajar sebagai dosen luar biasa pada Program Studi Sejarah Peradaban Islam, UIN Datokarama Palu, mempresentasikan dua riset tentang sejarah Sulawesi Tengah dalam forum akademik di Yogyakarta pada 12–14 Oktober 2026.
Kedua riset tersebut membahas pengalaman tahanan politik dalam kerja paksa pada masa Orde Baru dan dinamika hubungan sosial-politik komunitas Tionghoa di Sulawesi Tengah.
Riset pertama berjudul “Menjadi Biasa di Tengah Kerja Paksa: Sejarah Sehari-hari Tahanan Politik di Palu, 1966–1979”, dipresentasikan dalam workshop *Slavery, Enslavement, and Varieties of Bondage System in Pre-colonial, Colonial, and Postcolonial Indonesia: Exploratory Studies*, yang diselenggarakan Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya UGM pada 12–14 Oktober 2026.
Penelitian ini mengkaji pengalaman sehari-hari tahanan politik dalam menjalani kerja paksa, termasuk pengendalian atas kehidupan mereka serta upaya mempertahankan hubungan sosial dan memenuhi kebutuhan hidup di tengah pembatasan.
Riset kedua berjudul “When Cultural Diplomacy Was Not Enough: Chinese Schools and the Limits of Belonging in Central Sulawesi, 1950–1965”, dipresentasikan dalam seminar internasional *Revisiting Cultural Diplomacy: The Politics of Cross-cultural Dialogue in Postcolonial Societies*. Forum ini diselenggarakan Fakultas Ilmu Budaya UGM bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia pada 13–14 Oktober 2026.
Penelitian ini menyoroti peran sekolah Tionghoa sebagai ruang interaksi sosial dan budaya serta menunjukkan bahwa hubungan lintas budaya tidak selalu menjamin penerimaan politik. Setelah 1965, komunitas Tionghoa di Sulawesi Tengah menghadapi penutupan sekolah, pembatasan organisasi dan ekspresi budaya, serta pengawasan negara.
Jefrianto mengatakan, keikutsertaannya dalam kedua forum tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan sejarah lokal Sulawesi Tengah kepada komunitas akademik yang lebih luas.
“Saya ingin sejarah lokal Sulawesi Tengah, khususnya Palu, mendapat ruang lebih luas dalam diskusi akademik. Saya juga berharap penelitian ini dapat berkontribusi terhadap pengembangan keilmuan dan penulisan sejarah di Sulawesi Tengah,” ujar Jefrianto.














