Scroll untuk baca artikel
CINDOnews

Kualitas Udara Palu Memburuk, Warga Diimbau Gunakan Masker

224
×

Kualitas Udara Palu Memburuk, Warga Diimbau Gunakan Masker

Sebarkan artikel ini
FOTO: Kondisi langit Kota Palu yang dipenuhi kabut asap, Senin (5/10/2026). FOTO: KIRIMAN MUHAMMAD RIFKI

PALU, CINDOnews — Kualitas udara di Kota Palu memburuk pada Senin (5/10/2026). Hasil pemantauan Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri menunjukkan, konsentrasi partikulat meningkat tajam, dengan PM10 mencapai 210 µg/m³, PM2.5 sebesar 206 µg/m³, dan PM1 sebesar 189 µg/m³.

Data pemantauan kualitas udara yang dipublikasikan Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri juga menunjukkan lonjakan dibandingkan sehari sebelumnya. Pada Minggu (4/10/2026), konsentrasi PM10 tercatat 130 µg/m³, PM2.5 sebesar 132 µg/m³, dan PM1 sebesar 125 µg/m³.

Kenaikan juga terlihat dalam tren beberapa hari terakhir. Konsentrasi PM10 meningkat dari 73 µg/m³ pada 1 Oktober menjadi 105 µg/m³ pada 2 Oktober, 102 µg/m³ pada 3 Oktober, 130 µg/m³ pada 4 Oktober, kemudian melonjak menjadi 210 µg/m³ pada 5 Oktober.

Pada periode yang sama, konsentrasi PM2.5 meningkat dari 72 µg/m³ pada 1 Oktober menjadi 104 µg/m³ pada 2 Oktober, 106 µg/m³ pada 3 Oktober, 132 µg/m³ pada 4 Oktober, dan mencapai 206 µg/m³ pada 5 Oktober.

Dalam klasifikasi pada pemantauan tersebut, PM2.5 sebesar 206 µg/m³ berada pada kategori sangat tidak sehat, sedangkan PM10 sebesar 210 µg/m³ berada pada kategori tidak sehat.

Gambaran memburuknya kualitas udara juga terlihat pada platform pemantauan lain. AccuWeather pada 5 Oktober 2026 menampilkan indeks kualitas udara (AQI) Kota Palu sebesar 144 dengan kategori “Tidak Sehat”. Dalam keterangannya, kondisi tersebut disebut dapat langsung dirasakan kelompok sensitif, sementara orang sehat dapat mengalami kesulitan bernapas dan iritasi tenggorokan apabila terpapar terlalu lama.

Meski sama-sama menunjukkan kondisi udara yang tidak baik, angka AQI AccuWeather dan konsentrasi partikulat hasil pemantauan lokal merupakan dua ukuran yang berbeda. Karena itu, kedua data tersebut lebih tepat digunakan sebagai indikator yang saling melengkapi, bukan dibandingkan angka per angka.

Di tengah memburuknya kualitas udara tersebut, sumber polutan di Kota Palu juga tidak dapat serta-merta dikaitkan dengan asap dari Kalimantan.

Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri, Asep Firman Ilahi mengatakan, asap yang memengaruhi kualitas udara Palu berasal dari sejumlah wilayah di sekitar Sulawesi.

“Asap ini dari Sulteng sendiri, Touna, Morowali, dan Sulbar,” kata Asep, Senin (5/10/2026).

Selain sumber lokal dan regional, terdapat pula kontribusi polutan yang terbawa dari wilayah lebih jauh melalui mekanisme long-range transport.

“Ada juga tambahan long-range transport dari Maluku dan Papua Selatan, paling masif tapi luput dari pemberitaan,” ujarnya.

Menurut Asep, asap dari Kalimantan saat ini justru tidak mengarah ke Palu. Pergerakannya masih konsisten menuju utara-timur laut, terutama ke arah Malaysia dan Filipina.

“Asap Kalimantan masih konsisten bergerak ke arah Utara-Timur Laut, Malaysia-Filipina,” katanya.

Ia menambahkan, pola angin timuran masih aktif dan diperkirakan berlangsung hingga akhir Oktober. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam pergerakan massa udara dan distribusi partikulat di kawasan regional.

Secara visual, kondisi Kota Palu juga tampak diselimuti lapisan udara keruh. Kondisi tersebut bukan semata-mata kabut dingin atau awan, tetapi dapat berkaitan dengan polutan yang terperangkap di dekat permukaan.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat diimbau mengurangi paparan udara luar, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia. Aktivitas luar ruangan sebaiknya dibatasi ketika kualitas udara memburuk dan masyarakat dianjurkan menggunakan masker yang sesuai ketika berada di luar.

Masyarakat juga diminta menghindari aktivitas yang dapat menambah konsentrasi partikulat di udara, termasuk pembakaran sampah.