Scroll untuk baca artikel
SENI BUDAYA

Pemprov Sulteng: Festival Budaya Jangan Berhenti sebagai Seremoni

463
×

Pemprov Sulteng: Festival Budaya Jangan Berhenti sebagai Seremoni

Sebarkan artikel ini

PALU, CINDOnews — Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) mendorong Semarak Festival Budaya Nusantara Dunia Melayu Dunia Islam 2026 tidak berhenti sebagai pertunjukan seremonial, tetapi menjadi sarana memperkenalkan dan menjaga keberlanjutan budaya daerah, terutama kepada generasi muda.

Hal itu disampaikan Gubernur Sulawesi Tengah melalui Staf Ahli Bidang Pemerintahan dan Kesra, Drs. Muhammad Muklis, MM., saat membuka pelaksanaan festival yang digelar Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Sulteng tersebut, di Milenium Waterpark, Rabu (7/10/2026).

Muklis mengatakan, pelestarian budaya penting untuk memastikan generasi penerus tidak kehilangan akar ketika menghadapi perubahan zaman. Menurutnya, keragaman budaya Sulteng tidak cukup hanya ditampilkan dalam berbagai seremoni, tetapi harus diikuti dengan upaya menjaga nilai-nilai luhur agar tetap hidup dan menjadi bagian dari identitas generasi muda.

“Keragaman budaya tidak harus menjadi sekat, tetapi menjadi jembatan untuk mempererat persatuan. Kita ingin nilai-nilai dunia Melayu dan Islam terus hadir dan menjadi inspirasi,” ujarnya.

Ia mengatakan, Pemprov Sulteng berkomitmen merawat identitas daerah, memperkuat karakter generasi muda, serta menjaga warisan budaya. Karena itu, keberadaan festival budaya perlu diarahkan menjadi ruang edukasi dan pengenalan budaya kepada masyarakat.

“Kita ingin festival ini tidak hanya selesai sebagai panggung pertunjukan, tetapi menjadi sarana memperkenalkan budaya Sulawesi Tengah,” katanya.

Festival Budaya Nusantara 2026 digelar DMDI Sulteng sebagai ruang pelestarian seni budaya Islam sekaligus memperkenalkan keragaman budaya Nusantara. Kegiatan tersebut diisi atraksi budaya dan parade duta wisata.

Ketua Harian DMDI Sulteng sekaligus Ketua Panitia, Dr. H. Suaib Djafar, M.Si., mengatakan festival menjadi ruang untuk mempertemukan masyarakat dalam semangat kebhinekaan dan Nosarara Nosabatutu.

“Festival ini menjadi ruang bersama untuk saling mengenal dan menghargai dalam bingkai kebhinekaan dan Nosarara Nosabatutu. Mari kita bersama membangun Sulteng menuju Sulteng Nambaso,” ujar Suaib.

Sementara itu, Sekjen DMDI Indonesia, Drs. H. Ahmad Rizqon, M.Pd.I., yang hadir mewakili Ketua DMDI Indonesia, menilai festival tersebut memiliki peluang dikembangkan menjadi agenda dengan jangkauan lebih luas.

“Atas nama DMDI, kami memberikan apresiasi atas pelaksanaan festival ini. Dari event ini bisa kita dorong menjadi event nasional dan internasional yang dimulai dari Sulteng,” katanya.

Ahmad juga menekankan pentingnya menjadikan festival sebagai momentum memperkenalkan budaya kepada generasi muda. Menurutnya, budaya tidak cukup hanya diwariskan, tetapi perlu terus dilestarikan, dikembangkan, dan diperkenalkan kepada generasi penerus.

Festival ini dilaksanakan selama tiga hari, dari 7-9 Oktober 2026, dengan sejumlah kegiatan seperti lomba rebana, lomba zapin, lomba kuliner, dan fashion show.