Scroll untuk baca artikel
SENI BUDAYA

BASPI, Klub Basket yang Dibangun Pemuda Tionghoa Palu dari Nol

299
×

BASPI, Klub Basket yang Dibangun Pemuda Tionghoa Palu dari Nol

Sebarkan artikel ini

PALU, CINDOnews — Masyarakat Tionghoa di Kota Palu ternyata memiliki sejarah panjang dalam dunia olahraga. Pada 1969, sekelompok pemuda Tionghoa mendirikan Basketball Association Palu Indonesia (BASPI), klub basket yang kemudian berprestasi di tingkat nasional sekaligus menjadi ruang kebersamaan di tengah situasi sosial yang tidak mudah.

Gagasan pembentukan BASPI berawal dari percakapan Hermanto Chandra dan Harianto Saputra (Yau Ting), dua pemain basket nasional yang pernah mewakili Makassar. Pada 1969, keduanya mencari cara untuk menyalurkan energi dan semangat anak-anak muda Tionghoa di Palu melalui kegiatan positif.

Gagasan itu muncul setelah pada 1966 pemerintah menutup sekolah-sekolah Tionghoa. Kebijakan tersebut membatasi ruang pendidikan dan pertemuan bagi generasi muda Tionghoa. Di tengah perubahan itu, olahraga menjadi salah satu jalan untuk membangun kembali kebersamaan dan menciptakan ruang aktivitas bersama.

Sebelum BASPI terbentuk, sekelompok pemuda Tionghoa di Palu sebenarnya telah memiliki ikatan pertemanan yang kuat. Mereka dikoordinasikan Adi Luhung (Ahung), meski belum mempunyai nama organisasi. Kelompok ini kerap membantu penyelenggaraan acara kedukaan dan pesta pernikahan secara sukarela, ketika kegiatan semacam itu umumnya dilaksanakan di rumah masing-masing.

Kebiasaan saling membantu tersebut memperkuat hubungan antarpemuda. Dari pertemanan dan solidaritas itulah tumbuh keinginan untuk membangun wadah yang lebih terorganisasi.

Hermanto dan Harianto kemudian mengajak Lucky Koriston, Ricky Chowindra, Fred Holing, serta sejumlah pemuda lainnya memperbaiki lapangan basket di Taman GOR Palu yang saat itu rusak dan tidak terurus. Dari upaya bersama tersebut, BASPI lahir sebagai tempat berlatih, berkompetisi, dan mengembangkan organisasi olahraga.

Di bawah asuhan pelatih Fery Hukom, yang dikenal sebagai Pak Dede, BASPI rutin berlatih di Taman GOR Palu. Latihan mereka bahkan kerap disaksikan Gubernur Sulawesi Tengah saat itu, A.M. Tambunan.

Dengan fasilitas terbatas, BASPI mulai mengikuti pertandingan persahabatan dan berkembang menjadi salah satu kekuatan basket dari Sulawesi Tengah. Pada Pekan Olahraga Wilayah (Porwil) III di Ambon pada 1972, klub ini dipercaya mewakili provinsi. BASPI kemudian menembus lima besar dalam Kejuaraan Nasional Basket antarklub di Semarang dan pernah mewakili Sulawesi Tengah pada PON XIII di Jakarta, dengan menempati peringkat keempat.

Mengumpulkan Uang Untuk Membangun Lapangan Sendiri

Prestasi tersebut tidak membuat para anggota berhenti pada kegiatan pertandingan. Mereka ingin memiliki lapangan sendiri agar pembinaan basket dapat berlangsung lebih baik.

Kesempatan itu datang ketika Ngo Lan, salah seorang anggota, menawarkan tanah miliknya seharga Rp1 juta untuk dijadikan lapangan BASPI. Ia turut menyumbang Rp50 ribu, sedangkan sisa Rp950 ribu dikumpulkan melalui iuran anggota.

Karena kemampuan ekonomi para pemuda terbatas, mereka juga mencari dukungan dari masyarakat Tionghoa di Palu. Salah satu tempat yang mereka datangi adalah Toko Sulinda milik Halim Labako. Halim menyambut rencana tersebut dan menjanjikan dukungan lebih besar apabila para pemuda BASPI juga mampu membangun sekolah.

Pada 1976, tanah di Jalan Sungai Lariang Nomor 21 akhirnya terbeli. Para anggota tidak sekadar mengumpulkan dana, tetapi turut bekerja langsung membangun lapangan. Mereka mengangkut material dari Sungai Palu hingga larut malam. Kiesman Abdullah, yang saat itu menjabat Ketua KONI Sulawesi Tengah, ikut membantu pembangunan dengan menyumbangkan tribun.

Pembangunan lapangan rampung pada 1977. Lapangan yang kemudian dikenal sebagai Lapangan BASPI Nunu itu menjadi kebanggaan para anggota sekaligus bagian dari sejarah olahraga Kota Palu.

BASPI juga mengembangkan kegiatan olahraga lain dengan membuka divisi bola voli dan tenis lapangan. Dengan demikian, klub ini tidak hanya menjadi tempat pembinaan atlet basket, tetapi juga wadah aktivitas dan pertemuan bagi komunitas yang lebih luas.

Menjadi Kekuatan Basket Sulawesi Tengah

Perjalanan BASPI tercatat dalam pemberitaan media nasional. Harian Kompas edisi 6 Oktober 1982 memberitakan kemenangan BASPI Palu atas Flying Tiger Manado dengan skor 78–67 (41–34) dalam Turnamen Bola Basket Piala Wali Kota Palu. Turnamen tersebut diikuti sejumlah klub dari berbagai daerah di Sulawesi.

Dua tahun kemudian, Kompas edisi 8 Oktober 1984 menyoroti kesiapan Sulawesi Tengah menjadi tuan rumah babak kualifikasi bola basket PON XI Wilayah Indonesia Timur pada 20–27 Oktober 1984 di Palu. Saat itu, meskipun hanya memiliki satu lapangan yang memadai, Sulawesi Tengah tetap menyelenggarakan pertandingan yang diikuti Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Irian Jaya, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Tengah.

Catatan tersebut memperlihatkan bahwa kontribusi BASPI tidak berhenti pada prestasi klub. Keberadaan lapangannya turut mendukung penyelenggaraan kompetisi basket antarwilayah dan perkembangan olahraga di Sulawesi Tengah.

Sejarah BASPI juga menunjukkan bagaimana komunitas Tionghoa di Palu membangun ruang partisipasi melalui olahraga. Klub yang awalnya lahir dari inisiatif sejumlah pemuda itu berkembang berkat iuran anggota, dukungan masyarakat, dan kerja bersama untuk menyediakan fasilitas yang dapat digunakan dalam jangka panjang.

Perjalanan BASPI menjadi bagian dari sejarah lokal tentang persatuan dan gotong royong. Semangat kebangsaan tidak hanya diwujudkan melalui pernyataan atau peristiwa besar, tetapi juga melalui upaya membangun organisasi, merawat persahabatan, mengembangkan olahraga, dan menyediakan ruang bersama bagi masyarakat.

Dari lapangan yang diperbaiki secara swadaya hingga kompetisi tingkat nasional, BASPI memperlihatkan bagaimana para pemuda Tionghoa Palu ikut mengambil bagian dalam perkembangan olahraga dan kehidupan kota.

Sumber: Ito Lawputra, Imran, dan Yaumil Akbar Alamsyah, Pantang Mundur! Kisah Yayasan Karuna Dipa (Yogyakarta: Diandra Creative, 2025); Kompas, edisi 6 Oktober 1982 dan 8 Oktober 1984.